quote

life is started with big hopes, dreams, avidities, give it to Allah and let's Allah gives what we need, the best for us

Friday, January 25, 2013

Aku, Kini, dan Nanti

cerita ini aku ambil dari buku 'Bread for Friends' penulis : Lintong Simaremare. ini merupakan salah satu cerita dari 50 cerita Inspiratif di buku ini.
aku sedang berada dipesawat pada waktu aku membaca cerita ini, cerita yang sungguh menyentuh dan cerita yang membawa kita untuk mengetahui kehidupan yang benar begitu adanya.
cerita ini tentang ...


Sebuah torehan orangtua yang akan diberikan untuk anaknya, suatu saat nanti.

Untuk Anakku,
            Saat ini, badanku sudah renta, bukan lagi badanku yang dulu-badan yang kuat Ayah kebanggaanmu, yang bahu dan lehernya menjadi tumpuanmu. Maklumilah diriku. Tetaplah bersabar menghadapi ketidakmampuanku yang semakin banyak.

           Saat ini, engkau mulai menyaksikan pemandangan yang kotor dihadapanmu karenaku. Bahkan, baru saja air luirku terjatuh tercecer di lantai dan telah menodai sepatumu. Maklumilah diriku. Ingatlah saat engkau mengajakku bermain di pagi hari, muntah, dan mengotori baju kerjaku.

           Saat ini, aku sering mengulang-ulang terus ucapanku hingga membuatmu bosan. Bersabarlah. Ingatlah di masa engkau meminta aku membaca setiap cerita dongeng yang kuulang-ulang untuk mengantar tidur dan mimpi indahmu.

           Saat ini, aku membutuhkanu untuk mengelap dan membersihkan tubuhku. Lakukanlah dengan senang hati. Ingatlah bagaimana susahnya membujukmu berhenti bermain agar aku bisa memandikanmu.

           Saat ini, aku telah melakukan kesalahan dengan mengenakan bajuku terbalik, bahkan sempat terlihat oleh tamumu saat aku melintas dari ruang tamu. Perbaikilah. Ingatlah setiap ingin bermain di luar rumah, engkau berkali-kali memasang terbalik sepatumu dan aku selalu membenahinya untukmu,

           Saat ini, aku sering bingung dan tidak lagi dapat menjangkau pembicaraanmu. Janganlah merendahkanku. Ingatlah cara-cara yang kulakukan untuk menjawab setiap pertanyaan ‘mengapa’ yang selalu engkau ajukan saat itu.

           Saat ini, kita berjalan bersama, namun aku tidak mampu lagi mengimbangi kecepatan langkahmu. Tetaplah di sampingku, beriringan denganku, dan ulurkanlah tanganmu. Ingatlah bagaimana engkau belajar saat itu.

           Saat ini, aku sering lupa berbagai peringatanmu, temasuk menggunakan sendok garpu di tanganku. Janganlah bosan mengingatkanku atau mungkin melakukannya untukku. Ingatlah pada masa kecilmu saat engkau belajar menggunakan sendok, garpu, piring, dan gelas.

           Saat ini, aku sering mengajakmu duduk bercerita di belakang rumah dekat kandang ayam kita. Namun, aku tidak mudah lagi mencerna setiap maksud pembicaraanmu, apalagi tentang pekerjaanmu. Janganlah bosan. Perlu engkau tahu, sebenarnya topik pembicaraanmu bukan lagi hal yang penting bagiku. Asal engkau ada di sisiku, itulah kerinduanku.

           Saat ini, kursi roda pembelianmu rusak karena aku salah menggunakannya. Harusnya kugunakan rem, tetapi malah menabrak pot bunga kesayangan istrimu hingga pecah. Janganlah marah. Ingatlah suatu malam saat engkau menangis memintaku membelikan sepeda yang kau tunjukkan di siang harinya. Pagi-pagi sekali aku bergegas membelikan sepeda mahal itu. Namun di siang hari, sepeda itu sudah tercerai-berai dan rongsok di halaman rumah kita.

Saat ini, mungkin aku seolah-olah tidak menghargai usahamu membelikan makanan kesukaanku, karena tidak lebih dari sua sendok makanan yang melewati tenggorokanku. Bersabarlah. Ingatlah ketika setiap aku menyuapimu, makan, setiap kali pula engkau mencoba memuntahkan makanan itu sebelum ke perutmu.

Saat ini, bukan lagi seperti dulu ketika aku selalu ada untuk mengajarimu. Aku menua dengan segala kekurangan fisik dan pikiranku. Janganlah bersedih. Tetaplah bersuka cita, seperti suka citaku di masa kecilmu. Bagaimana pun masa kecilmu telah menjadi inspirasi, kekuatan, serta penghibur bagiku. Satu hal yang engkau harus tahu...jiwaku tetap seperti dulu, selalu bersorak-sorai, ber-hip-hio hura ketika bersamamu.

Nanti, jika aku pergi menghadap Yang Maha Kuasa, aku akan merepotkanmu lagi dengan segala urusan yang behubungan denganku dan engkau akan menumpahkan air matamu. Janganlah terlalu menangisiku. Ikhlaskanlah kepergianku dan genapilah sukacitaku. Lakuakanlah segala sesuatu utnuk pemberangkatanku dengan senang hati. Ingatlah bahwa aku sudah ada gantinya di dunia ini, dirimu, anakku.

Seorang anak tidak pernah memilih untuk menagalami masa tua atau renta. Namun, semua itu adalah masa-masa indah buatku dan semoga juga selalu indah bagimu.
Ayahmu

Merawat masa kecil dan mengurus masa tua adalah dua fase yang sama, yang membutuhkan kasih tanpa syarat dari orangtua maupun anak



2 comments: